found my little story on grade 7th……

Nina, itulah panggilan seorang gadis berumur 15 tahun yang selalu bertekad untuk untuk selalu menghargai orang lain. Menurutnya, dengan mendengarkan dan menanggapi orang lain berbicara adalah suatu  hal yang jarang ditemuinya saat ini, dan akan berdampak besar ketika dewasa nanti. Bisa jadi lingkungan yang sekarang mulai rusak  adalah akibat dari ketidakmauan manusia untuk medengarkan lingkungannya. Padahal,hal yang kecil ini dapat membuat hari seseorang puas dan bahagia.

Saat ia umur 12, suatu ketika disaat Nina bermain dengan handphonenya, ia dipanggil ayahnya, “Nina, kemarilah, nak!” “iya,Yah, sebentar..” “sedang apa kamu,Nak?” “anuu,sedang membalas mention dari teman ,Yah” “sudah belajar?” “belum,Yah..”. Sambil mengelus rambut putrinya,ayah pun berkata “anakku, kelak kamu akan sadar,hal itu tak akan berguna dan kamu bisa menjadi orang yang tidak peduli terhadap lingkunganmu, baik alam, maupun manusia” “i,,ii..iyaa Yah, nina akan menghilangkan sifat nina ini..” jawab Nina dengan malu akan kelakuannya. Tetapi, Nina tetap membalas mention teman-temannya hingga lupa belajar dan tentu saja, mengingkari janji Ayahnya.

Hingga umur 14 tahun,Nina masih tetap saja melakukan hal itu. Sampai suatu ketika,ia merenung di kamarnya. Ia mengingat disaat duduk di bangku sekolah dasar, bercanda ria dengan teman-temannya,puas akan kehidupannya,tetapi semenjak ia SMP ,tepatnya setelah ia mengenal media sosial , ia seakan terpuruk dalam kesunyiaan ditengah keramain orang. Ia tidak puas,ia merasa seperti ada bagian dalam dirinya yang hilang. Yup, ia sadar, yang dikatakan Ayahnya itu benar,Nina merasa kehilangan teman curhatnya, Dita. Setiap ia bercerita kepada Dita, ia merasa selalu tidak didengarkan, namun ketika giliran Dita yang butuh Nina, ia bercerita terus-terusan tanpa habisnya. Nina merasa kesal dengan hal itu, tidak hanya Dita, hampir setiap teman disekolah nya seperti itu. Parahnya,nilai Nina pun menurun akibat keseringan twitter-an dan bunda pun khawatir dengan kondisi Nina sekarang. Nina perlahan berusaha menghapus kebiasaannya. Segala cara ditempuhnya, mulai dari menghapus aplikasi yang berhubungan dengan media sosial di handphonenya, memberikan handphone ke bundanya untuk tidak mengganggu belajarnya,dan karena ia seorang muslimah,ia beralih membaca al-qur’an untuk mengisi waktunya. Pertama kali ia mencobanya, ia merasa sangat sulit, tetapi setelah 3 bulan ia sudah terbiasa meskipun dia harus mendapat julukan si “Kuper” dari teman-temannya karena ia tidak “up-to-date”. Tapi untuk masalah ini, ia menghiraukannya, ia berpikir hal tersebut hanya badai di tengah laut yang akan menghilang perlahan.

Setelah 6 bulan,prestasinya naik, mulai dari ranking satu di kelasnya, medapatkan gelar siswa tedalan di sekolahnya, dan berbagai penghargaan lainnya. Bukan hanya itu, teman-temannya pun ikut rajin seperti Nina. Apalagi teman sebangkunya,Ranesha. Ia merasa beruntung sekali mempunyai teman yang baik, rajin, dan pintar.  Orangtuanya sampai terharu bahagia dengan putrinya. “Nina, jangan lupa untuk tetap berdo’a,shalat,dan mengaji ya.. jangan sombong dengan keadaanmu sekarang” tutur bunda Nina, “iya,Bun,nina janji akan terus belajar tapi tak lupa shalat dan berdo’a,Bun” jawab Nina dengan senyuman.

Sekarang ia berumur 18 tahun, ia diterima di universitas ternama di Indonesia,ia mengambil jurusan psikolog. Hebatnya, ia diterima lewat jalur undangan dan mendapatkan beasiswa !. Karena, sewaktu SMA, ia tercatat dalam buku “Guinness World Record” sebagai motivator termuda !. Universitas mana yang tidak mau menerimanya ?. Sejak SMA , Nina sering mengikuti seminar tentang psikolog,hingga akhirnya ia berminat untuk membuat seminar sendiri, sehingga dari penghasilannya tersebut ia amalkan untuk kepedulian sosial dan sisanya ia tabung. Nina ingin orang tuanya naik haji dengan penghasilannya tersebut.

Tetapi suatu hal terjadi dengannya,Nina menjadi anak yang sombong sejak ia masuk kuliah. Ia tidak mau lagi berkomunikasi dengan teman lamanya, ia lebih memilih bergabung dengan gengnya yang baru, yang suka hunting keluar, menghabiskan uang, berfoya-foya, dan parahnya lagi, Nina lupa akan pesan-pesan Bundanya, yaitu “shalat”. Nina sering tidak shalat akibat terlalu sering pergi bersama teman-temannya dan padatnya acara seminarnya. Nina sekarang lebih sering pulang malam, hingga suatu saat, pukul 1 pagi, ia belum pulang ke rumah. Bunda dan Ayah khawatir, Nina tidak mengangkat telepon ,dan SMS pun tidak dibalas olehnya. Bunda berusaha mencari kabar ke Dita, untungnya Dita satu jurusan dengan Nina, namun sekarnang, ia tidak dekat lagi dengan Nina. Ternyata Dita tidak tahu keberadaan Nina sekarang, setaunya Nina pergi bersama Tere dan Sania ke Jakarta untuk seminar. Tere san Sania adalah geng Nina sekarang. Mereka terbang dengan pesawat pukul 7 malam,sebelumnya Nina tidak cerita kepada Bunda maupun Ayahnya. Setelah itu, Bunda mencoba mengubungi Tere dan Sania, ternyata tidak bisa dihubungi juga, lalu Bunda mencoba menguhubungi teman-teman Nina yang lain, namun tak ada hasil yang diperolehnya. Bunda berkeringat dingin dan hampir menangis, Ayah pun mencoba menenangkannya, setelah itu Ayah menghubungi polisi terdekat dan melihat siaran berita di televisi. Tiba-tiba, pukul 03.00 , Ayah dan Bunda menangis tersedu-sedu setelah melihat kabar di televisi bahwa telah jatuh pesawat yang ditumpangi Nina dan kawan-kawannya. Pesawat tersebut jatuh didekat perkampungan warga di . Bunda sampai pingsan akibat shock .  Ibunda Tere dan Sania pun langsung ke rumah Nina untuk berdo’a bersama. Hingga pukul 7 pagi suasana rumah Nina masih penuh dengan tangisan dari keluarganya. Semua berharap yang terbaik, semua berharap Nina dan penumpang lainnya masih hidup dan bisa diselamatkan.

Esoknya,suatu stasiun televisi mengabarkan bahwa ada 5 penumpang yang masih hidup dan 15 orang luka berat dan 12 orang tewas bersama pilotnya. Tiga diantara lima orang tersebut perempuan dan masih diamanka oleh warga sekitar. Diperkirakan pesawat jatuh akibat kehabisan bahan bakar. Mendengar kabar tersebut, Ayah,Bunda, dan keluarga Tere serta Sania langsung ketempat lokasi. Lokasinya cukup mudah ditempuh, sehingga tidak perlu jalan kaki ataupun yang lainnya. Meskipun begitu, mereka harus menempuh waktu 3 jam dari bandung untuk sampai di Jakarta menggunakan mobil. Sesampainya, Bunda Sania menemukan Tere dan Nina di sekerumunan warga, tetapi Sania tak terlihat. “Sania mana Tere? Sania mana? Jangan bilang ia tewas??? Jawab Tere!” tanya Bunda Sania sambil menangis, “i..ii..iyaa tante….. sania terjepit badan pesawat… Yang sabar Tante, semoga amal sania diterima disisi-Nya” jawab Tere dengan nada terseduh serambi air mata menetes di pipinya. Suasana menjadi campur aduk dengan kebagian dan kesedihan. Sania kini telah tiada, namun di pikiran Bunda sekarang adalah Nina selamat. “Bunda,maafkan nina tidak mengabarkan Bunda bahwa nina akan pergi ke Jakarta.. nina menyesal, nina tidak akan mengulanginya lagi,sekali lagi,nina janji akan menepatinya,Bunda..” sesal Nina seiring berjanji pada bundanya,sambil menangis tersedu-sedu di pelukan Bundanya, Nina juga berkata, “maaf juga Bunda, nina sekarang jadi suka lupa shalat… nina sangaattt menyesal bunda,,,,” “iya, sudah.. tidak usah menangis lagi, tapi sekali lagi bunda melihat kamu tidak shalat, bunda tidak segan-segan memberimu bantuan lagi,” jawab Bunda sambil bergurau sedikit.

Keesokan harinya jenazah Sania dimakamkan di pemakaman umum di Tangerang. Semua kerabat Sania datang terutama Keluarga Nina dan Tere, mereka ikut terhanyut dalam keadaan. Melihat hal tersebut, Nina berinisiatif akan memberikan sumbangan kepada keluarga Sania. Nina dibantu oleh teman-temannya di kampus mengadakan sumbangan yang akhirnya terkumpul cukup banyak. Uang tersebut langsung diberikan kepada keluarga Sania, Bundanya berterima kasih sebanyak-banyaknya, ia tak tahu apa yang harus dilakukan untuk membalas kebaikannya.

Sekarang, kondisi  menjadi normal kembali, Nina dan Dita bersatu kembali, begitupun dengan Tere. Tiga tahun kemudian, Nina lulus dengan IP tertinggi di universitasnya, tidak hanya itu , ia sudah bisa menghasilkan 3 buku tentang bagaimana cara membuat hidup bahagia, 2 buku tentang cara mengatasi badai kehidupan, dan semua buku tersebut mendapat apresiasi berupa novel terbaik bagi remaja. Semua itu tidak lepas dari ketekunan belajar dan do’a yang terus menerus. Ia selalu bersyukur dan tetap berhati-hati agar tidak mengulangi kejadian yang pernah dialaminya dulu. Satu lagi yang mengejutkan, akhirnya ia bisa memberangkatkan orang tuanya pergi ke tanah suci. Sungguh beruntung mempunyai anak seperti Nina.  Lengkapnya hidup bukan berarti memiliki segala-galanya dan puas terhadap diri sendiri dan tidak mementingkan orang lain, tapi bisa membahagiakan orang lain terutama orang tua kitalah yang membuat hidup ini terasa lengkap.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s