Kado Istimewa

Hai, namaku Gerald. Aku berumur  14 tahun. Tinggiku 172 cm,aku punya tanda lahir dilengan kananku berbentuk G. Aku tinggal bersama Bibi Mori dan Paman Mogi di desa Sukarata. Beliau memiliki suara yang merdu dan badan yang gemuk. Mereka adalah orangtua angkatku. Bibi Mori pernah bercerita padaku, aku ditemukan di pinggir jalan saat beliau ingin pergi ke pasar ditengah panasnya siang hari. Aku diletakkan di sebuah ranjang besi ,dibuntal selimut tipis,dan mukaku sangat merah akibat terpanggangteriknya sinar matahari. Dibawah ranjangkumada pesan yang berisi : rawatlah anak ini,beri nama Gerald,suatu saat,aku aku akan menjemputnya.Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran orangtuaku. Mengapa mereka tega menelantarkanku dipinggir jalan dan meninggalkanku,serta membuat janji yang tak pasti. Aku ingin bertemu mereka.Akan kupeluk mereka setelah aku tau mengapa mereka berbuat seperti itu kepadaku.

            Besok umurku bertambah. Bibi dan Paman selalu merayakan ulang tahunku setiap tahun. Beliau mengajakku ke luar kota,membelikan baju atau sepatu baru,dan pastinya bibi membuatkan kue ulang tahun yang rasanya sangat enak. Beliau mengangkatku sebagai anaknya karena beliau merasa kasihan trrhadap kondisiku yangterlantar dan Bibi Mori yang tidak dapat hamil akibat terlalu gemuk. Maka dari itu,beliau selalu menyayangi dan menjagaku seperti anak kandungnya sendiri.

            Kiacauan burung menyambut pagi ini.Jarum jam menunjukkan pukul 06.30 yang artinya lima belas menit lagi bel sekolah berbunyi. Aku langsung bergegas mandi dan menggati pakaian,mengambil bekal sarapan,pamit kepada bibi dan paman,dan langsung berangkat. Sekolahku berada di belakang rumahku. Aku hanya butuh waktutiga menit untuk berjalan kaki,tapi Paman Mogi selalu bilang,bukan berarti hanya butuh3 menit untuk jalan kaki kesekolah,selalu bangun kesiangan. Harusnya bisa lebih datanglebih awal daripada yang lain. Yayaya,aku selalu mengingat ingat pesan Paman,tetapientah kenapa hanya dua sampai tiga kali dalam seminggu aku bisa bangun pagi.Itupun bangun jam  6.

            Sampai di sekolah pukul 06.40,aku langsung mengambil tempat duduk dibelakang-pojok-kiri. Itu juga karena aku terlambat datang. Entah kenapa,sampai belistirahat berbunyi,teman-temanku tidak ada satupun yang menyapaku, begitupun Eliana,sahabatku. Sewaktu kutanya besok ada tugas apa,dia hanya melihatku lima detik dan meninggalkanku ke kantin begitu saja. Ketika bel masuk bunyi, pelajaran fisika dimulai. Aku paling suka pelajaran ini, Bu Hety gurunya. Beliau sangat sabar dan sangat berinteraktif pada muridnya. Tapi aku terkejut,tiba-tiba beliau datang dengan raut wajah dingin,kemudian menyuruh semua siswa mengeluarkan tugas yang telah diberikan 3hari yang lalu. Aku tidak tahu apa-apa,seingatku beliau tidak memberiksn tugas apa-apa. Saat beliau ke mejaku dan menanyakan “mana tugasmu Tuan Mogi Gerald?!” “mohonmaaf,tugas apa,Bu?” “Apa yang kamu katakan?!Tugas apa?!Berdiri di lapangan danberi hormat pada bendera sampai bel pulang berbunyi!”. Aku tak tahu harus apa,maka aku menuruti perintah beliau. Aku berjalan ke lapangan dan kudengar semua warga sekolah menertawaiku. Saat aku berdiri di tengah lapangan tepat pukul 12 siang,kulihat seorang ibu yang masih muda yang tak pernah kulihat,tapi entah mengapa sepertinya aku mempunyai ikatan batin dengannya,beliau melihatku sinis,tapi ku alihkan pandanganku ke arah bendera.

            Akhirnya bel sekolah berbunyi tepat pukul 1 siang.Aku langsung kabur kekantin untuk membeli makanan dan minuman. Ketika aku berjalan menuju kantin,tiba-tiba Eliana memanggilku dari lantai 2, aku mengacuhkannya karena seharian aku tak dianggap. Tiba-tiba tepung dan air jatuh dan membasahi sekujur tubuhku. Kulihat keatas,ternyata ada Bu Hety dan teman-teman sekelasku,seketika itu Eliana turunmemberiku kue ulang tahun dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepadaku. Akulupa hari ini hari ulang tahunku! Dan aku tahu kenapa hari ini begitu sial bagiku.

            Setelah Eliana bernyanyi, semua teman-teman dan guruku turun memberikanselamat kepadaku. Selain itu,ada yang memberiku hadiah. Aku sangat bahagia danberterima kasih kepada mereka.

            Aku dijemput Bibi dan Paman pukul 3 ,aku sudah bersih dari tepung danternyata bibi dan paman juga mengetahui kejutan yang diberikan padaku,sehinggamereka mejemputku lebih sore. Kali ini,aku naik taksi dan langsung pergi menujubandara. Biasanya ke stasiun,entah kenapa kali ini ke bandara. Ternyata bibi dan pamanmengajakku ke Paris! Wow! Aku sangat terkejut,mereka sangat baiiikk sekali . Pesawatberangkat pukul tujuh malam,sehingga kami makan malam di bandara. Ketika dipesawat,aku bertemu wanita yang aku temui tadi siang. Beliau menatapiku,tapi aku acuhtak acuh terhadapnya.

            Pukul 3 sore di Paris kami tiba. Kami menginap di hotel San Lou’tr tepat didepan menara Eiffel! Aku tak akan melewatkan momen-momen terindah dalamhidupku,sehingga aku berfoto-foto lewat jendela,karena itu sudah hampir malam.Malam itu kami tidak kemana-mana,karena kelelahan di pesawat dan besok kami akanberekreasi ke menara Eiffel,sehingga kami butuh istirahat yang cukup.

            Pagi pun tiba. Aku tak sabar ingin melihat Eiffel dari jarak dekat dan inginmelihat pemandangan kota Paris dari puncak menara Eiffel. Setelah semua sudah siapdan Bibi sudah menyiapkan makanan yang akan dibawa,kami berjalan kaki menujumeara Eiffel. Kami mencari tempat yang strategis untuk sarapan,melihat pemandangan,dan tentunya untuk foto. Ketika kami selesai makan,dan barang-barang sudahdibereskan,kami langsung memasuki bagian menara Eiffel,karena aku terlalusemangat,aku berlarian,dan Bibi kelelahan,sehingga bibi memanggilku. Aku langsungberhenti dan berjalan pelan-pelan disamping bibi. Saat kami tiba di puncak Eiffelkulihat pemandangan Paris yang sangat indah! Aku berfoto-foto bersama bibi danpaman. Hampir satu jam aku berdiri disana,dan akhirnya kami harus turun karenapaman ingin buang air kecil. Karena perjalanannya lama dan tidak menemukan kamarkecil,akhirnya paman ngompol dan kami terpaksa harus segera kembali ke hotel.

            Setelah sampai di hotel,aku bwrbaring di kasur dan melihat hasil jepretanku.Bibi membantu paman membersihkan celananya. Tiba-tiba,ada yang mengetuk pintu.Ketika kubuka,ternyata wanita yang ku lihat tadi. Dia menyapaku “Hai,” “Haijuga,maaf,mau bertemu dengan siapa?” “a aa aa,, apakah namau Gerald?” “i ii  iiya,ibusiapa ya?” “ooh,Gerald…. Kamu anakku ! Kau sudah tumbuh dewasa nak! Lihatbadanmu! Tinggi seperti ayahmu, dan lihat lenganmu! Ada tulisan G . Aku adalahibumu naaakk. Aku minta maaf karena telah menelantarkanmu 15 tahun yang laluu,”.Beliau yang tadinya biasa saja sekarang berlutut dihadapanku. Aku diam tak tahu apayang harus kulakukan . Aku terkejut,apakah aku harus percaya atau tidak. Bibi yangsudah selesai membantu paman langsung menyuruh kami masuk dan memenangkan ibutadi. Bibi menghidangkan teh hangat agar emosi ibu tadi menjadi tenang. Setelah itubibi dan paman mengajak berbicara. Sebelumnya paman menyuruhku menghindar,jadiaku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Setelah pembicaraan selesai,bibi memanggilku.Bibi mengenalkanku pada ibu tadi. Ibu itu bernama Ibu Ratih. Ibu itu baru saja menjadiguru seni tari di sekolahku,jadi pantas saja kemarin aku melihatnya. Bibimengatakan,beliau adalah ibu kandungku yang sebenarnya. Ibu itu menunjukkan foto-foto ketika aku masih bayi ,sebelum aku dibuang. Di foto itu memang benar,ada tandalahir di lengan kanannya. Sama sepertiku. Seketika itu aku air mataku jatuh. Aku taktahu harus berbicara apa. Akhirnya aku menanyakan “mengapa ibu tegamenelantarkanku di jalanan?” ibu menjawab, “nak,maafkan ibu. Ketika itu ayahmumeninggalkan ibu . Dia memilih pekerjaannya sebagai fotografer daripada ibu. Ibu takpunya uang untuk mencukupi kebutuhanmu. Ibu cuti dan tidak diberi uang untukmerawatmu nak.. Jadi ibu tinggalkan engkau di pinggir jalan dan berharap ada yangmengadopsimu.. Dan sekarang… Syurlah kamu tumbuh sehat… Terima kasih tuan yangtelah merawat anak saya… ” belum selesai bicara,aku memotong perkataan ibu “tapikenapa harus dibuang dipinggir jalan buuu…? Kenapa tidak kau titipkan aku di pantiasuhaann? ” “panti asuhan biayanya mahal nak,… Ibu tak bisa membayarnya…” seketikaitu Bibi Mori yang dari tadi menangis langsung membuka mulut “Sudah! Begini saja.Gerald. Sekarang kamu dan ibumu sudah bertemu. Ibumu sudah menjelaskan mengapabeliau meninggalkanmu. Beliau meminta maaf padamu. Beliau yang melahirkanmu.Kau tak sepantasnya berbicara kasar seperti itu nak… Maafkanlah ibumu…” “baiklaahbii,bu.. Aku maafkan apa yang anda lakukan… Tapi saya punya satu permintaan daningin Bibi dan Ibu kabulkan.. ” ibu menjawab “apa saja yang kau minta ibu akanlakukan demi anakku Gerald” “bibi dan paman juga akan menyanggupinya nak,,, kamusudah kami anggap sebagai anak kami..” bibi menambahkan. Akhirnya aku menjawab”baiklah,cukup satu permintaanku. Aku hanya ingin ibu tinggal bersama kami. BibiMori dan Paman Mogi sudah kuanggap sebagai keluarga. Aku ingin semua keluargakubersatu lagi.” aku langsung memeluk erat ibuku,bibi,dan paman secara bersamaan.Akhirnya kami beristirahat dan besok kami kembali ke desa. Aku ijin bibi dan pamanagar tidur bersama ibuku. Semalaman kami bercerita tentang apa yang terjadi selama ini.Kami larut dalam tawa yang juga diselingi dengan tangisan.

            Ini adalah kado terindah dalam hidupku. Aku bersyukur kepada Tuhan yangtelah mempertemukanku dengan ibu kandungku. Masalah lalu biarlah berlalu. Biarkanmenjadi angin yang tak akan kembali di masa kini. Jadikan masa kini lebih indahdaripada sebelumnya.